Support US!

Search This Blog

13 November 2008

Muhasabah Diri-Kematian mengingatkan bahwa....


Kajian Muslimah -Kamis, 13 Desember 2007
Materi : Dizkrul Maut
Pemateri : Teh Ike

Kali ini saya mau sama-sama belajar ttg mengingat kematian. Bagaimana menyikapi sebuah kematian yang memang pasti akan datang dan bagaimana nasehat ampuh untuk bekal hidup kita. Ada sebuah hadist yg diriwayatkan At Thabrani …: Perbanyaklah mengingat sesuatu yag melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian. Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Pernahkan kita mencoba membisikkan dalam hati kita bahwa … siapa tahu besok/nanti mlm kita meninggal? padahal pekerjaan kita masih banyak yg tertunda dan sengaja ditunda, pekerjaan kewajiabn

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua
berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.
5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

Allahu’alam bisshowab.

Allah memberi kita hati….memberi kita panca indera… memberi iita kehidupan… dimana didalamnya terdapat banyak peristiwa…. dari lahir sampai mati

******

Diskusi

Ike: iya,… ketika ada yg meninggal… mk biasanya menangis adalah respon

Ike: setelah mengucapkan doa

Ike: pd hakekatnya menangisi kematian seseorang…. bkn saja menangisi krn tak akan lagi bertemu dgnya (mayit)

Ike: tetapi… membayangkan… bgm malaikat menyambutnya, bgm keadaan kuburnya…bgm kelanjutan kehidupan selanjutnya….sehingga jika kita berdoa… mk kita tulus mendoakannya dg sgt berharap doa kita dikabul

Ike: Allah mengampuninya, mengasihinya, menerima amalnya, dst

Ike: dan jg membayangkan bgm dg kita nanti?

Ike: apk sama kondisi meninggalnya…husnul khotimah kah?

lita: jadi, apa saja atau apa pun yang dimiliki oleh kita atau siapa saja, sebenarnya tidak berarti apa-apa yah teh…

lita: jadi tidak selayaknya kita bersedih atau iri, benarkah

Ike: benar ukhti erlita

Ocha: tapi kita sering lupa teh

Ocha: jadi sering bersedih untuk hal yg ga perrlu.. jarang mengambil hikmah dari setiap kematian

Ike: sama… kita mmg ditakdirkan bersifat pelupa

Ocha: sering menunda2 pekerjaan .. benar2 ga ingat mati

Ike: mk … nasehat menasehati menjadi hal yg urgent

lita: kalau kita sedang ditimpa musibah dan kesedihan, terus kit amengingat kematian.. itu bukan berarti putus asa khan teh

Ike: mengingat kematian bkn berarti melemahkan semangat untuk hidup

Ike: justru dg mengingat kematian… bgm hidup setelah mati….membuat kita replanning atas hidup kita

Ike: recovery… remanagement… dan re2 yg lain

Ocha: membuat hidup lebih berarti dengan mengumpulkan bekal yg banyak untuk kehidupan selanjutnya

Ike: mr kita renungkan bersama apa cita2 kita

Ike: apa mimpi kita?

Ike: apa keinginan kita? terutama setelah mati

Ike: anak sy sering sy iming-imingi dg syurga…. bgm karakteristik org2 yg berada di surga… mk sedikit demi sedikit dia mulai mau berubah…. dr yg tdk mau berbagi… mjd org yg berbagi dst

Ike: mmg dg bhsnya anak

Ocha: apa anak2 langsung percaya dengan yg “abstrak” gitu teh..?

Ike: khan ada ayatnya… kalo di surga byk mknan… minuman yg enak2

Ike: .salah satu ayatnya ada di 16:31. kalo anak2 mau mknan… ada di syurga

Ike: mdh-mdhan saya dan akhwati semua bisa menyemanagti hidup ini mellaui dzikir maut

Ike: dzikrul maut… dan segala hikmah dibaliknya

Ike: ayo kita bersama isi hidup ini dengan kebaikan… termasuk di 10 hari ertama bulan Dzulhijjah ini

Ike: semoga Akhwati fillah dan keluarga senantiasa Allah beri lindunganNya

Ditulis dalam muhasabah, umum

http://kajianmuslimah.wordpress.com/2007/12/14/dizkrul-maut/


Cetak Halaman

13 Oktober 2008

Susulan Yang Harus Kita Lakukan Walaupun Ramadhan Telah Berlalu

Rasa Syukur/Terhutang Budi

Sekiranya tidak ditunjukkan rasa syukur, Allah mungkin menjatuhkan hukuman kepada sesiapa yang menerima nikmat atau rahmat tersebut. Contohnya, dalam surah Al-Kahfi, pemilik kebun itu dihukum oleh Allah dengan kebinasaan kebun itu sendiri (kebun itu pada asalnya merupakan nikmat yang dikurniakan oleh Allah). Begitu juga dengan nasib Firaun yang bongkak membanggakan sungai-sungai yang mengalir dibawahnya. Allah menjadikan air sungai tersebut memusnahkan Firaun hingga dia lemas dalam air yang dibanggakan itu.

Bagaimana cara kita berterima kasih kepada Allah atas rahmat/nikmat yang dikurniakan?
Rasa syukur/terhutang budi tertegak atas tiga tiang.

Rasa Terkesan Dalam Hati Perasaan Bersyukur Yang Teramat Sangat

Allah berfirman dalam surah Al-Maidah (surah 5) ayat 7 “ Dan kenanglah nikmat Allah yang telah dikurniakanNya) kepada kamu, serta ingatlah perjanjianNya yang telah diikatNya dengan kamu, ketika kamu berkata: “ kami dengar dan kami taat (akan perintah Allah dan Rasulnya).” Dan bertaqwalah kamu kepada Allah kerana sesungguhnya Allah Maha mengetahui akan segala (isi hati) yang ada di dalam dadamu” Ingatlah nimat Allah. Tanamkan dalam hati, perasaan syukur yang mendalam. Sebutlah, “Ya Allah, hanya dengan rahmatMu dapat aku berpuasa. Hanya dengan rahmatMu dapat ku jalankan ibadah Qiamulail, iktikaf, khatam Quran… Hanya dengan belas kasihanMu.. Hanya Engkau yang membolehkan aku melakukan semua itu… Ya Allah, Engkau membuka berbagai pintu untukku… Engkau terus memberikan aku berbagai rahmat…”. Seterusnya , cuba renungkan dan ingat kembali saat-saat yang dialami pada bulan Ramadhan-misalnya, saat ketika kamu paling khusyuk dalam solat. Saat kamu rasa amat hina dan daif serta tertunduknya perasaan angkuh dalam diri, saat kamu rasa teramat hampir dengan Allah, saat kamu melawan keras keinginan untuk tidur. Kesemua ini adalah rahmat daripada Allah. Merayulah kepada Allah dengan doa, “Ya Allah, peliharalah segala nikmat ini untukku, tambahkanlah nikmat ini untukku. Ameen Allahumma Ameen.”

Inkisa’ar (Rasa Daif Hina/Rendah Hati)

Inkisa’ar bermaksud rasa kedaifan diri iaitu menundukkan perasaan angkuh dalam diri di hadapan Allah dengan penuh perasaan hina dan rendah hati. Kita telah menikmati kebesaran Allah. Orang yang amalannya diterima oleh Allah akan berasa bahagia dengan pemberian Allah. Dia akan merenung segala nikmat yang dikurnikan oleh Allah. Sedarilah bahawa semua kebaikan yang kita terima datang sepenuhnya dari Allah. Kita mungkin memasang 3 buah jam loceng untuk mengejutkan kamu dari tidur tapi hanya dengan izin Allah saja kamu akan dapat bangun mengerjakan ibadah Qiamulail. Kita perlu rasa rendah hati kerana kesemua itu datang daripada Allah. Sifat buruk seperti membazir masa untuk berbual kosong, berbalas mesej (sms), chating, dan perkara negative yang datangnya dari diri kita sendiri akibat kelemahan diri kita. Ibadah yang kamu lakukan, kesemuanya datang daripada Allah. Sebutlah, “ Ya Allah, Yang Maha besar.

Sedarilah bahawa semua kebaikan yang kita terima datang sepenuhnya daripada Allah. Kita mungkin memasang 3 buah jam loceng untuk mengejutkan kita dari tidur tetapi hanya dengan izin Allah sahaja kita akan dapat bangun mengerjakan ibadah Qiamullail. Kita perlu rasa rendah hati kerana kesemua itu datang daripada Allah. Sifat buruk seperti membazir masa untuk berbual kosong, berbalas mesej (sms), dan perkara negative datangnya daripada diri kita sendiri akibat kelemahan diri kita. Ibadah yang kita lakukan, kesemuanya dating daripada Allah. Sebutlah, “Ya Allah, Yang Maha Besar, Engkaulah yang memberikan ku segala kebaikan, kesemuanya daripada Engkau Ya Allah,”. Apabila kita benar-benar merasakan semua kebaikan datang daripada Allah, maka itulah sebenarnya perasaan syukur.

Dalam surah Al An’aam surah 6 ayat 162 ada disebut perkara yang bermaksud, “katakanlah (wahai Muhammad), sesungguhnya solatku dan ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah yang memelihara dan mentadbir sekalian alam ”. Dengan itu, tanamkan persaan rendah hati serta daif hina hingga dapat menundukkan perasaan angkuh dala diri. Rasai kebesaran Allah iaitu kuasa mutlak Allah swt (seperti yang disebut dalam surah Al- Kahfi surah 18 ayat 39,
“ tiada daya upaya melainkan dengan pertolongan Allah ”.

Dalam setiap amalan yang dilakukan, perhatikan dua perkara:
Kebaikannya datang daripada Allah, dan apa-apa keburukannya datang daripada diri kita sendiri.

Muhasabah Diri

Ini bermaksud sikap mengambil tanggungjawap terhadap perlakuan diri sendiri. Ramadhan merupakan kayu pengukur kita. Contohnya, untuk menentukan adakah hati kita kini seperti pada bulan Ramadhan? Adakah solat kita kini seperti pada bulan Ramadhan? Adakah kita menjaga lidah kita seperti pada bulan Ramadhan? Adakah peribadi kita kini terjaga seperti pada bulan Ramadhan? Cuba bayangkan jika Allah berkata, “ hambaku, setelah Ku izinkan kau menikmati kemanisan Ramadhan, aku berikan mu cahaya, Aku melepaskan mu daripada belenggu kehinaan, dan keluarkan kamu dari kegelapan (melalui ibadah Qiamullail).. maka bagaimana kamu boleh membelakangkan itu semua? Sekiranya kamu jahil, mungkin kamu dapat dimaafkan, tetapi kamu dikurnikan nikmat!”

Bagaimana boleh terjadi seseorang yang telah memegang Al Quran, membacanya, memahami maksudnya, menghayatinya dalam kehidupan ketika Ramadhan, tetapi kemudian meninggalkannya selepas Ramadhan?? Bagaimana boleh terjadi seseorang yang telah berdiri malam seorang diri menjalani ibadah Qiamullail, telah menikmati kemanisan berjaga malam berbicara dengan Allah, tetapi kemudian meninggalkan itu semua? Selepas Ramadhan, kamu menghabiskan masa bergelak ketawa, tidur, menonton TV! Sebenarnya, kehidupan pada bulan Ramadhan dan selepas Ramadhan tidak patut berbeza. Kehidupan pada bulan Ramadhan harus menjadi contoh tentang ara bagaimana kita patut menjalani kehidupan harian kita.

Ikhlas

Hati kita perlu sentiasa di suatu tahap suci - bersih iaitu jujur ikhlas. Sekiranya seseorang menghayati Ramadhan dengan ikhlas, dia tidak dapat patah balik ke belakang. Contohnya, jika seseorang sedang berpuasa dan terdapat buah kurma serta air di depannya, kemudian ada orang menyuruh dia minum dan memakannya, sesetengah orang akan berkata, “ saya tidak boleh merosakkan puasa saya”, sedangkan seorang lagi akan berkata, “ saya tidak boleh makan atau minum sehingga Tuan saya (Allah) memerintahkan saya (berbuka puasa)”- nampak atau tidak perbezaannya??

Istiqamah

(kesinambungan, berpegang teguh secara berterusan, tegas).

Seorang mukmin akan terus beristiqamah atau berpegang teguh pada ibadahnya. Ibadah Puasa bukan hanya untuk bulan Ramadhan. Terdapat banyak lagi hari-hari lain yang sunat kita berpuasa. Contohnya 6 hari pada bulan Syawal, 10 hari pertama bulan Zulhijjah, setiap Isnin dan Khamis, hari pada pertengahan bulan Islam, juga pada bulan Muharram, Rejap, Sya’aban dan lain-lain. Tentang ibadah pembacaan Quran pula- adakah ibadah ini terus lenyap juga? Adakah pembacaan Quran hanya dilakukan pada bulan Ramadhan? Quran sebenarnya ialah mukjizat yang berterusan. Kita tidak sepatutnya meninggalkan Quran dengan berakhirnya Ramadhan. Kita perlu duduk mengaji setiap hari. Quran boleh menjadikan kita beristiqamah, InsyaAllah. Sebagai cadangan, luangkan 1 jam sehari bersama Quran - mungkin untuk belajar membaca dengan betul, baca maknanya, baca tafsir atau adakan program menghafal Al-Quran. Setelah beberapa lama, kamu boleh memanjangkan masa sejam ini kepada masa yang lebih lama. Apabila Allah membuka pintu RahmahNya untuk kamu, jangan melepaskan peluang tersebut. Mengikut satu riwayat, Urwah bin Zubayr membaca seperempat daripada Quran setiap hari, kemudian merenung maknanya. Suatu hari, kakinya terpaksa dipotong, jadi beliau meminta supaya kakinya dipotong ketika beliau tengah bersolat iaitu dalam keadaan beliau amat khusyuk. Beliau tidak pernah meninggalkan ibadah membaca seperempat daripada al-Quran selain pada malam kakinya dipotong - beliau pengsan selepas solat tersebut. Beliau benar-benar mengasihi al-Quran. Beliau berkata: “Alhamdulillah, Allah memberiku dua kaki. Allah hanya mengambil balik satu kaki. Allah memberikan aku 4 orang anak, dan hanya mengambil balik seorang. Inilah contoh manusia yang memahami apa yang dibaca setiap hari dalam al-Quran.

Qiyamullail

Teruskan ibadah Qiyamullail walaupun selepas Ramadhan. Bagaimana boleh terjadi seseorang yang telah menikmati kemanisan Qiamullail pada malam hari dan kemanisan merayu kepada Allah ketika sujud, kemudian kembali kepada keadaan asal? Menurut satu cerita, hassan Ibn Soleh pernah menjual seorang hamba perempuan kepada sebuah keluarga. Hamba sahaya tersebut mengejutkan keluarga tersebut pada malam hari sambil menjerit, “ Salaah! Salaah” (solat! Solat!). tuannya bertanya “ sudahkah tiba waktu fajar?” hamba perempuan tersebut lalu berkata, “ Tuan sekeluarga cuma mengerjakan solat fardhu sahaja”? Lalu hamba tersebut pulang kepada Hassan Ibn Soleh dan berkata, “ Tuan menjualkan saya kepada keluarga yang hanya mengerjakan solat fardhu. Ambillah saya kembali!”

Rasulullah dan para Salaf tidak pernah meninggalkan Qiamullail. Pada suatu hari ‘Ali r.a. mengimamkan solat. Setelah selesai solat, beliau pusing ke belakang mengadap jemaah. Wajahnya kelihatan sedih. Beliau berkata, beliau sering menghabiskan masa dengan Sahabat Rasulullah saw tetapi kini mereka sudah tidak kelihatan lagi (Beliau ketika itu sedang bercakap kepada para tabiin iaitu generasi yang pernah bertemu Sahabat Rasulullah saw). ‘Ali r.a. lalu berkata, sahabat Rasulullah saw berehat antara kaki dan dahi mereka! (maksudnya, mereka banyak mengerjakan solat umpama rehat bagi mereka kerana mereka berasa tenang ketika bersolat).

Sila ambil perhatian tentang amalan tidur awal. Nabi saw menasihatkan kita supaya terus tido awal selepas solat Isyak. Ini juga merupakan suatu kebiasaan yang baik dan sihat. Salah satu hadith yang menjelaskan kebaikan amalan tidur awal ini diceritakan oleh Abu Barzah al-Aslami yang mengatakan Nabi saw. Lebih suka melambatkan solat Isyak dan baginda tidak tidur sebelum itu atau bercakap-cakap selepas itu (hadith riwayat al-Bukhari).

Dengan demikian, dinasihatkan supaya kita terus menjalani ibadah Qiyamullail walaupun selepas bulan Ramadhan, IsyaAllah. Berdoalah agar Allah tetap merahmati kita dengan ibadah Qiamullail hingga ke hari kita bertemu denganNya.

Zikir
Teruskan amalan berzikir walaupun selepas Ramadhan.


Masjid


Kita sedia maklum bahawa hadith mengatakan wanita lebih baik bersolat di rumah. Walau bagaimanapun, Nabi saw pernah bersabda:

“ Jangan menghalang wanita mengunjungi masjid, walaupun rumah mereka lebih baik untuk mereka ”. (Abu Dawud). Jadi untuk membolehkan para wanita menghidupkan semula kemanisan berqiamullail pada bulan Ramadan, sekali sekala bolehlah mereka ke masjid untuk bersolat agar dapat mereka mengenang kembali pengalaman menikmati kemanisan mendengar secara langsung kuatnya bunyi azan, sambil banyak berdoa antara waktu bunyi azan dan iqaamah, dan juga smbil berdiri bersentuh bahu dan kaki dengan jemaah wanita lain dalamkeadaan iman, disamping perkara-perkara lain lagi.

Solat Nawafil

Selalulah amalkan solat nawafil. Solat tersebut boleh menjadi pelindung kepada kita.


Isti’aanah (mengharapkan pertolongan Allah)

Isti’anah terhadap Allah bermaksud bergantung harap terhadap Allah untuk mendapatkan kebaikan serta yakin Allah akan memberi kita apa yang dipinta. Kita perlu yakin kepada Allah. Sekiranya kita memohon kepada Allah tapi tidak yakin doa itu akan dimakbulkan, maka itu bukanlah isti’anah dan bukan ibadah.

Isti’anah berkait rapat dengan sifat tawakkal. Apakah kepentingan isti’anah dalam ibadah? Ia merupakan cara mencapai kebahagian di dunia.

Sebagai kesimpulan, pada asalnya, teruskan saja menjalankan sebarang amal salih yang dilakukan pada bulan ramadhan yang mulia. Selepas bulan Ramadhan, kita seharusnya berada dalam keadaan di mana kita boleh menolak bisikan syaitan dan kita mampu berkata, “ aku tidak mahu (mengikut syaitan), aku telah melindungi hatiku. Allah telah menyelamatkan aku pada bulan Ramadhan. Aku tidak akan kembali kepada kepada keadaan duku.” Di samping itu, selalulah bertaubat. Cepat-cepatlah bertaubat bila kita melakukan dosa.

Ya Allah, aku lemah. Engkau Maha Berkuasa. Ya Allah, bantulah aku menjalani hidup dengan cara yang disenangi olehMu

Berwaspadalah agar kita tidak kembali kepada cara hidup sebelum Ramadhan. Kehidupan kita tidak berakhir selepas berlalunya Ramadhan. Teruskanlah menyembah Tuhan yang disembah pada bulan ramadhan sepanjang tahun. Dialah Tuhan yang dihadapannya kamu menangis semasa bulan Ramadhan dan juga selepas bulan Ramadhan!


Cetak Halaman

08 Oktober 2008

Ramadhan Berlalu Sudah.. Kini Apa Pula Susulannya?

Ramadhan berlalu sudah. Kini apa pula susulannya?

Ramadhan datang dan Ramadhan berlalu.. sesetengah orang memperoleh manfaat. Sesetengahnya tidak… golongan mukmin sejati tentu akan merasa sayu dengan berlalunya ramadhan.

Sesetengah orang pula bergelut untuk mencapai matlamat Ramadhan. Ada yang tumpas dalam perjuagan, namun kembali bangkit dan terus menguatkan semangat. Kita semua dirahmati dalam bulan Ramadhan. Mereka yang tidak dirahmati tentunya mereka yang berbuat dosa pada bulan ramadhan.

Dalam bulan Ramadhan, jika kita melakukan apa yang disebutkan dalam tulisan yang lalu. Dari jauh lagi kita akan dapat mencium keharuman kehidupan golongan salihin yang terdahulu.

Menurut kata Shaikh Hussain Yaaqob, “Bila Ramadhan berlalu pergi, masjid-masjid kembali kosong.. sepi.. iaitu kembali kepada keadaan asal, dan hanya dikunjungi oleh mereka yang benar-benar mencintai masjid.

Kenapakah selepas Ramadhan, manusia kembali kepada kehidupan sebelum Ramadhan, iaitu berpatah balik ke belakang? Mereka telah pun menikmati kemanisan Qiyamullail (seperti solat terawih setiap malam dan banyak lagi solat sunat yang lain) dan juga kemanisan membaca Al-Quran (dengan banyak mengaji Al-Quran). Golongan manusia seperti ini sebenarnya bukan ahli ibadah yang sejati. Mereka hanya merupakan golongan yang mengikut orang lain, iaitu mereka melakukan ibadah sekadar ikut-ikutan.


Ketika mangkatnya Baginda Rasulullah s.a.w, Abu bakar pernah berkata, “dan kini kepada mereka yang menyentuh Muhammad s.a.w, pastinya sedar Muhammad s.a.w sudah meninggal dunia, namun bagi sesiapa yang menyembah Allah (Tuhan Nabi Muhammad) , Allah sentiasa hidup dan Allah tidak akan mati. Allah berfirman dalam surah Ali Imran (surah ke-3) ayat 144, “ Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sudahpun didahului oleh beberapa orang (yang mati atau terbunih). Jika demikian, jika ia pula mati atau terbunuh, (patutkah) kamu berbalik (berpaling tadah menjadi kafir)? Dan (ingatlah), sesiapa yang berbalik (menjadi kafir?, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Dan (sebaliknya), Allah akan memberi balasan pahala kepada orang-orang yang bersyukur (akan nikmat Islam yang tidak ada bandingannya itu), Ibn Abbas pernah berkata, “ Ya Allah, keadaan ketika itu seperti orang tidak pernah mendengar ayat Quran ini sehinggalah Abu Bakar membacanya sebagai peringatan. Lantas orang ramai mula membacanya sehingga tidak ada sesiapa pun yang tidak membacanya.”

Oleh itu, berdasarkan senario di atas, kita dapat membuat kesimpulan bahawa sesiapa yang hanya membesarkan Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan sudah berakhir. Sesiapa yang membesarkan (menyembah) Allah, sesungguhnya Allah Maha Besar! Tuhan yang sama disembah (padaNya kita mengabdiksn diri) ketika bulan Ramadhan dan juga di luar bulan Ramadhan. Begitulah pandangan hidup orang salih. Deen atau cara hidup kita seharusnya cara hidup beristiqamah. Kita membaca Fatihah dalam solat kita. Kita mohon ditunjukkan jalan yang lurus-iaitu siraatul mustaqeem. Dengan itu, sungguh tidak wajar sekiranya kita tidak tetap hati. Kita seharusnya keluar dari bulan Ramadhan dengan hati yang masih kasih pada ibadah. Sebagai perbandingan atau analogi: Sekiranya kita mengasihi anak-anak kita, kita tentu mahu meluangkan masa yang lebih bersama mereka. Dengan itu, mereka akan lebih kasih kepada kita.

Ibadah dalam bulan Ramadhan seharusnya menjadi seperti udara dan air kepada kita. Jangan bergelumang dengan tanah iaitu hal duniawi. Allah telah meningkatkan darjat kita pada bulan Ramadhan. Mengapa kita masih mahu terus menjadi hina dan bergulumang dengan dunia?? Dalam surah 16 ayat 92, Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu menjadi seperti perempuan yang telah merombak satu persatu benda yang dipintalnya, sesudah ia selesai memintalnya dengan kuat dan teguh: dengan kamu menjadikan sumpah kamu sebagai tipu daya untuk mencabul perjanjian yang telah dimeteraikan (sesama kamu disebabkan ada golongan yang lebih ramai daripada golongan lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan yang demikian itu) iaitu, siapa yang mematuhi Allah serta memenuhi perjanjian dan siapa pula ingkar kepada Allah serta mencabuli perjanjian ; (Dan ia sudah tentu akan menerangkan kepada kamu, pada hari kiamat, apa yang kamu berselisihan)”.


Dengan demikian, janganlah menjadi seperti seseorang yang telah merombak/meleraikan benang yang telah dipintalnya menjadi pakaian, hingga kembali menjadi benang. Kenapa kita ingin melakukan sedemikian?? Kenapa kita ingin meleraikan apa yang telah dicapai pada bulan Ramadhan? Itu merupakan kurnian daripada Allah. Kita menangis, kita berdoa, kita banyak mengaji Quran dan kita banyak melakukan solat nawafil. Jadi kenapa harus kita meleraikan semua itu? Adakah semua ibadah itu semata-mata untuk berasa seronok pada ketika itu sahaja? Apa sebenarnya tujuan perlakuan ibadah itu? Adakah ia hanya suatu perjalanan hidup? Atau sekadar satu pengalaman? Seperti suatu era lain/pusat pelarian untuk mencari ketenangan, kemudian kembali kepada kehidupan biasa?

Pastinya kamu semua dirahmati dalam bulan Ramadhan (mengikut tahap yang berbeza-beza). Ibadah puasa, qiamulail, zikir, akhlak terpuji, pergaulan dengan golongan orang salih, bacaan al-Quran, semuanya merupakan nikmat besar daripada Allah swt. Apabila kita memperoleh rahmat, kita rasa terpanggil untuk melakukan sesuatu terhadap rahmat yang diterima. Apa-apa yang tidak baik, elok diketepikan.

Kita tidak tahu siapa antara kita yang (ibadahnya) diterima pada bulan Ramadhan. Imam ‘Ali pernah berkata: Alangkah baik sekiranya kita ketahui siapa yang dirahmati (ibadahnya diterima) pada bulan Ramadhan. Bolehkah kita mengucapkan tahniah kepada mereka. Dan kepada mereka yang (ibadahnya) yang tidak diterima, kita ucapkan takziah. Perhatikan! Beliau menggunakan perkataan ‘takziah’- iaitu perkataan yang yang sama digunakan ketika berlaku kematian seseorang.

Sebarang kebaikan yang kita alami ketika bulan Ramadhan, memerlukan usaha agar ianya berkekalan. Para salaf (golongan salih yang terdahulu) sering berdoa selama 6 bulan selepas Ramadhan dengan doa yang berbunyi, “Ya Allah, terimalah amalan kami pada bulan Ramadhan yang lalu (mereka menangis dan merayu kepada Allah agar amalan mereka diterima).” Setelah itu, 6 bulan sebelum Ramadhan pula, mereka berdoa agar diizinkan Allah menikmati Ramadhan yang mendatang.

Hak dan tuntutan dalam agama bagaikan tali keledar dalam kereta. Sekiranya kita tergelincir (iman menurun), kita tidak terhempas dan memusnahkan diri sendiri!


Cetak Halaman

20 September 2008

SELAMAT TINGGAL RAMADHAN - Meraih Keberkatan Ramadhan pada 10 malam terakhir

Andaikan kita telah pun melalui Ramadhan sepertimana yang kita pelajari sebelum ini, sekarang tinggal 10 malam terakhir bulan Ramadhan.. begitu cepat masa berlalu, secepat Sheikh Mohd Hussain Yaakob berkata : Sekarang masanya anda “ menyinsing lengan”; tinggalkan keenakan tidor dan ikut cara Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w. memberi perhatian dan penjagaan yang istimewa untuk 10 malam yang terakhir ini. Baginda akan melakukan ibadah yang beliau tidak lakukan di dalam 20 malam yang terdahulu seperti I’tikaf, hidupkan sepanjang malam dengan beribadah. Aisyah r.a berkata, “di bulan Ramadhan, Rasulullah s.a.w. lebih sibuk dan tekun; malam-malamnya dipenuhi dengan beribadah, meninggalkan isteri-isterinya, memperbanyakan doa, dsb. Para salaf juga meningkat tahap motivasi dan aspirasi 10 malam terakhir ini.umpama memecut pada meter terakhir dalam acara larian pecut. Andaikan 10 malam Ramadhan terakhir ini sebagai satu perlumbaan-curahkan segala tenaga yang anda mampu, bersabar - berbicara dengan nafsu anda-hanya 10 malam daripada 365 malam.

Allah bertitah dalam surah Ali Imran 3:133, “Wasaari”uu…” (dan berlumbalah) untuk memohon keampunan dan kesejahteraan, seluas syurga dan bumi yang disediakan untuk mereka yang bertaqwa (muttaqoon)

Rasulullah saw bersabda, “jelaslah Lailatul Qard ada di 10 malam terakhir Ramadhan.”
Cara melaksanakan 10 malam terakhir Ramadhan:
Secara ikhlas, nilai diri anda (bermuhasabah) di hadapan Allah dan bertanya pada diri anda sendiri.
•Adakah aku mengerjakan ibadah dengan cara yang dituntut?
•Adakah Ramadhanku sempurna sepertimana yang dituntut dan dirahmati Allah?
•Adakah aku merasai kemanisan beribadah?
•Adakah aku bertaqwa (atau meningkatkan ketaqwaanku) sebagaimana tujuan aku berpuasa?
•Adakah Al-Quran menghidupkan jiwaku yang mati?
•Adakah pembaharuan diriku membawa kepada pembaharuan seisi keluargaku?
•Adakah anda rasa, selepas melalui perjalanan baru ini, anda akan bertekad meninggalkan dosa/maksiat seterusnya mendekatkan diri kepada Allah?

Shaikh mohd Hussain Yaaqoob berkata, “ berlaku jujurlah apabila membuat penilaian ini-anda seharusnya menjawab ‘ya’ pada sesetengah soalan dan ‘Tidak selebihnya.” (tolak markah)

Andai kata, seseorang itu telah melakukan yang terbaik tetapi masih ditolak markah, maka sedarlah kekurangan anda dan beritahu pada diri sendiri anda, masih ada peluang-ada 10 malam lagi untuk memperbaiki dan memperbaharui kekurangan yang berlaku pada 20 malam terdahulu. Ambil peluang terakhir ini dan cepat-cepat buat I’tikaf, walaupun hanya satu malam. I’tikaf bukan masanya untuk bersosial, tidur, bersembang. Ikut peraturan I’tikaf-tiada ketawa, tiada berbual-bual, putuskan hubungan dengan dunia, abadikan diri kepadaNya. Sekiranya tidak dapat membuat I’tikaf, tidak mengapa, terimalah sebaik-baik situasi yang telah ditentukan Allah untukmu.
Ali r.a berkata: Pastikan amalan kamu diterima dan bukan sahaja melakukan amalan itu sendiri. Perbanyakan doa dan ibadah.

Terus beristifar. Tidakkah kita sedar bahawa Allah menuntut kita mengakhiri Haji dengan istigfar? Surah Al-Baqarah 2:199 : “ kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang yang ramai (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Allah telah beberapa kali menyebut dalam Al-Quran, ‘Aabideen (ahli ibadah) mengakhir solat di malam hari dengan istigfar, sebagaimana di dalam surah Az Zaariayat 51:17-18 : “mereka tidur sebentar sahaja di waktu malam dan bersolat dengan perasaan takut dan harapan. Dan pada waktu sebelum fajar, mereka memohon keampunan Allah.”
Al Hassan berkata: mereka bersolat hingga sebelum fajar, mereka duduk lalu beristifar iaitu sebaik tamat solat, mereka beristifar - mereka sedar bahawa kita harus gigih bekerja tetapi kita juga mempunyai kelemahan dan kekurangan itu. Siang dan malam ramadhan kita beristigfar kerana kita ada kekurangan untuk beribadah.
Jangan beristigfar di lidah sahaja-sebutkan dengan lidah dan hati dan bertaubat tidak akan mengulani dosa.

Pada 10 malam terakhir Ramadhan, perbanyakan istigfar antara solat dan Quran - luangkan masa yang khusus untuk beristigfar dengan hati.
Beri tumpuan untuk memohon dan meminta keampunan (‘Afw) Allah, iaitu mengetepikan/mengampunkan seperti ianya tidak pernah berlaku. Tidakkah anda mahu Allah melihat perkara-perkara baik yang anda lakukan sahaja dan mengetepikan kesalahan anda? Mengapa kita tumpukan kepada ‘Afw’? Apabila Aisyah r.a bertanyakan Rasulullah saw, “katakan “Allahumma innaka ‘afwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annee”. “Ya Allah! Allah yang maha pengampun, ampunilah aku.’ Perhatikan, Aisyah r,a yang mengetahui banyak doa-doa masih bertanyakan kepada Rasulullah s.a.w. “ apa yang perlu saya katakan pada malam istimewa ini.”

‘Afw ialah nama Allah – bermaksud Allah mengampunkan dosa kita umpama dosa itu tidak pernah berlaku! Apabila anda melakukan dosa, keimanan anda menurun; akan ada hukuman dunia dan akhirat tetapi apabila Allah ‘Afw, tidak ada kesan pada dosa-dosa anda.
‘tuhibbul ‘afw’ = Allah suka mengampunkan hamba-hambaNya-inilah masanya anda memohon keampunan dari hati dan semoga Allah memberinya kepada kamu. Ini bermaksud yang Allah mengasihi hamba-hambaNya yang saling bermaafan. Apabila anda ada ‘Afw, anda semakin hampir dengan ketaqwaan. Allah ada berfirman, “ mata dibalas denagn mata” tetapi Dia lebih mengasihi umatNya yang ‘afw. Maka 10 malam terakhir ialah masa untuk memohon keampunan Allah.. Mohonlah!!

Boleh juga doa begini : “Ya Allah! Terimalah kelebihanku dan ketepikan kelemahanku.”
Utamakan ibadah dan amal jariah. Mengapa? Kerana keistimewaan Lailatul Qard - ganjaran yang sangat hebat. Kita mengucapkan selamat tinggal Ramadhan dan tidak tahu bila kita akan berjuma Ramadhan lagi.

Sedih apabila kita melihat ramai yang mempunyai motivasi yang tinggi di awal Ramadhan tetapi pada penghujungnya mereka kelihatan, bosan - kesian! Berwaspada dengan perangkap syaitan dan nafsu.

Ada 'visi terowong' (tunnel vision) untuk menguasai 10 malam terakhir. Ada yang bekerja keras hingga malam ke-27 sahaja. Kita seharusnya gigih hingga malam ke-29: hingga disahkan Ramadahn berakhir.

Berwaspada pada “ujoob(angkuh/sombong) = berpuas hati dan berfikir diri sendiri.
'Ujoob ialah penyakit hati. Allah memberi kita sebulan untuk beribadah bukan untuk beribadah bukan untuk kita berasa angkuh = memuji diri sendiri. Susah hendak membuang perasaan 'ujb, maka berhati-hatilah nafsu — bermegah, ego, meninggi diri — letakkan nafsu anda di tempatnya. “Ujb memusnahkan amalan?

Satu petanda amalan anda diterima adalah apabila anda berperasaan seperti fakir miskin di hadapan Allah, tingkatkan ketaqwaan anda. Maka kita berharap Allah akan menerima amalan kita dan mengampunkan kita. Kita harus berperasaan kerdil di hadapan Allah akan menerima amalan kita dan mengampunkan kita. Kita harus berperasaan kerdildihadapan Allah dan Ujoob membuat kita memandang rendah terhadap umat Islam yang lain, sombong dan meniggi diri. Berwasapada!

Allah Al-Kareem, Allah Maha Pemurah, terimalah amalanku. Sentiasa ingatkan diri sendiri bahawa ada mereka yang lebih banyak amalannya - lakukan ini supaya anda tidak rasa puas hati dengan amalan anda - lakukan lebih lagi!
“Harapkan 'Afw Allah.

LAILATUL QADR Inilah malam penuh keistimewaan, kebaikan (khayr), penuh barakah(blessing), great virtue-Quran turun dari syurga yang terbawah sekaligus. Lebih baik daripada seribu malam = 83 + tahun. Malam inilah Qadar untuk tahun hadapan dapat ditentukan, maka kita mahu Allah melihat kita sebaik-sebaiknya, perbanyakkan doa. Pada malam ini, Jibrail akan turun. Bayangkan sedang anda bersolat, Jibrail duduk di sebelah, memerhatikan anda. Begitu juga malaikat-malaikat yang lain. Rasulullah saw bersabda,” Sesiapa solat pada malam hari Lailatul Qard dengan iman dan ihtisaab, akan dihapuskan dosa-dosanya.” Sesiapa yang dimakbulkan Lailatul Qard, dia diberi segala kebaikan dan sesiapa yang terlepas Lailatul Qard, akan kehilangan besar.
Ada hikmah di sebalik Rasulullah saw tidak menyatakan waktunya - maka kita akan terus gigih berusaha hingga ke akhrnya. Begitu juga Allah tidak menyatakan waktunya- maka kita akan mati dan hari akhir zaman.

Aisyah r.a ada melaporkan yang baginda menjauhi isteri-isterinya, memenuhi malam dengan solat dan menggerakkan keluarganya untuk buat yang sama.
Para salaf juga menghiasai diri mereka luar dan dalam. Thabit al Banani (Tabiin) memakai baju yang elok-elok dan wangi-wangian pada 10 malam terakhir. Dia juga mengharumkan masjid dengan bau-bauan kerana beliau tahu ada tetamu istimewa akan datang. Ada salaf membeli jubah khas untuk menghiasi dalaman mereka dengan membanyakkan taubat dan doa.

Kaum wanita-jangan menghiasi diri kamu atau memakai wangi-waingan ketika ke masjid untuk terawih. Kaum wanita yang didatangi haid atau nifas : Sekiranya wanita itu sudah melakukan yang terbaik, InsyaAllah, ganjaran Lailatul Qard masih terbuka. Mereka boleh berjaga malam, buat segalanya kecuali solat. Lailatul Qard ialah hadiah daripada Allah, banyak malaikat akan datang, lebih banyak dari batu kerikil di bumi ini.

Sunnah Rasulullah s.a.w.- Baginda tidak tidur pada 10 malam terakhir Ramadhan, baginda hanya akan tidur sebentar selepas fajar di siang hari. Baginda berjaga malam terutama pada malam ganjil hingga fajar. Perbanyakan kebaikan yang sedang anda lalukan: membaca Quran, qiyam,zikir dan doa-berikan tumpuan khas kepada doa.

Kesimpulan:
Inilah peluang anda yang terakhir! Pintu syurga terbuka, doa anda dimakbulkan. Maka jangan biarkan masa berlalu begitu sahaja-- lalai atau malas atau keletihan atau alasan – Jualan Murah Ramadhan, persiapan Eid!

Bagaimana orang-orang beriman mengucapkan selamat tinggal Ramadhan? Sedarlah bahawa anda mengucapkan selamat tinggal kepada bulan barakah, bulan keamanan, bulan keselamatan, bulan cahaya, bulan yang membahagiakan para sahabat orang-orang beriman. Lalui bulan Ramadhan dengan penuh potensi dan ia akan mengubah kita. Pohon kepada Allah untuk membebaskan kita daripada api neraka, menerima Ramadhan kita. Menerima siyaam, qiyam, zikir dan segala amalan kita. Ya Allah! Semoga ia akan datang pada tahun-tahun hadapan.

Ucapkan “Allahumma lakalhamd” (ya Allah, segala pujian untukMu) di akhir Ramadhan. Pujian kepada Allah kerana memberi kita taufeeq untuk berpuasa dan sembahyang Ramadhan, Lailatul Qard, keimanan, Islam dan Al-Quran, untuk berpuasa, qiyam, sedekah dan ihsan.

Apa itu n’Eid?
'Eid ialah Hari Raya. Mereka meraikannya kerana Allah telah memberi tawfeeq untuk meraih kemanisan & keberkatan Ramadhan dan mereka telah manfaatkan Ramadhan sepenuhnya!.


Cetak Halaman

13 September 2008

Apakah matlamat kita dalam bulan ramadan?

Kita mestilah ikhlas kerana Allah s.w.t. dan ianya datang dari hati yang suci. Maka kita akan dapat apa yang diharapkan dari keikhlasan kita itu. Banyakkanlah berdoa terutama pada waktu malam di bulan Ramadan.

Matlamat-matlamat yang kita patut ada di bulan Ramadan:

Matlamat 1: Hati Harus Mengharapkan Rahmat Allah

Rahmat yang turun dari langit akan dikecapi oleh segolongan manusia. Kita harus mengharap dari lubuk hati kita akan secebis dari rahmat Allah untuk melindungi kita. Tiada kejayaan yang boleh diperolehi tanpa rahmat Allah. Kita mesti merasakan yang kita dahagakan dan amat memerlukan rahmat Allah. Kita umpama tercari-cari akan RahmatNya. Kita tidak akan mendapat Jannah (syurga) hanya dengan amal soleh tetapi yang paling penting ialah RahmatNya. Jika kita menunjukkan yang kita amat memerlukan Rahmatnya dengan meminta sedaya upaya, InsyaAllah Dia akan berikan kepada kita.

Matlamat 2: Mengharapkan Pengampunan Allah Ke Atas Dosa-Dosa Kita Yang Lalu, Sekarang Dan Akan Datang.

Rasulullah s.a.w. berkata "Sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisaab akan diampunkan segala dosa-dosa yuang lalu." Oleh itu kita berdoalah agar Allah berkati kita dengan iman dan ihtisaab Ramadhan ini.

Iman bermakna : Aku melakukan ini kerana Allah semata-mata-patuh dan menyerah diri kepaNya. Aku berpuasa kerana Engkau menyuruh aku berpuasa.

Ihtisaab bermakna : Sesuatu ibadah yang dikaitkan dengan hati. Ihtisaab berasal dari perkataan "hisaab" (dipertanggungjawabkan). Maknanya, kita sedar akan ganjaran dari hanya dari Allah.

Kadangkala, kita memberi tumpuan pada amal-amal besar, kita juga harus ada ihtisaab walaupun pada amal-amal kecil. Amalan yang kita sangkakan kecil sebenarnya besar di sisi Allah sekiranya kita benar-benar ikhlas ketika melaksanakannya. Dengan ihtisaab, amal kecil boleh menjadi besar, kita miskin.. kita merayu pada Allah.

Sheikh Hussain Yaqoob menerangkan, jika seseorang berpuasa, berbuka puasa, berpuasa lagi dan seterusnya, dimana niat dan dimana ihtisaab? Kadangkala kita melakukan sesuatu ibadah itu disebabkan ikut-ikutan atau seperti "robot" - telah diprogramkan dalam diri! Rasulullah s.a.W mengatakan, sesiapa yang tidak berniat pada malam sebelumnya tidak berpuasa." Niat bukan di lafaz dengan lidah tetapi berniat di dalam hati sahaja.

Sheikh juga berkata: Ihtisaab membuatnya binggung kerana dia sedang cuba memahami ihtisaab dan ikhlas. Untuk mendapat ganjaran pahala, adakah ihtisaab itu diperlukan? Misalnya, jika seseorang memasuki masjid dan duduk tetapi tidak berniat I'tikaaf, dapatkan dia pahala I'tikaaf? Setelah bertanya kepada ramai ulama, pendapat yang tepat adalah: Jika seseorang tidak berniat untuk I'tikaaf, dia TIDAK AKAN mendapat ganjaran pahala I'tikaaf. Ini sejajar dengan hadith "innanamal a'malu bin niyyat = sesuatu amal berlandaskan pada niat." Rasulullah s.a.w. juga berkata, " Kamu akan mendapat ganjaran pahala apa yang kamu kusyoo' di dalam salaah."

Oleh itu, apabila kita melakukan apa-apa amal, kita mesti sedar (conscious) & mahukan akan ganjaran dari Allah. Misalnya, jika kita berkata, Ya Allah, aku mendengar syarahan ini keranaMu, Ya Allah, aku sekarang menahan lidah keranaMu (yakni tidak menjawab balik), Ya Allah, aku sedang duduk dengan diam sekarang keranaMu dll. Oleh itu, ketika berpuasa di bulan Ramadhan, kita harus juga sedar akan dosa-doa dan meminta pengampunan dari Allah-IMBAS kembali hari yang kita mengumpat, imbas juga hari kita menjerit pada seseorang, ingat hari yang kita marah seseorang.. kemudian fikirkanlah: Apabila Allah mengampun kita, dosa-dosa kita akan dihapuskan. Ini bermakna di dunia, kita tidak akan disiksa (dendaan) di dunia dan di akhirah nanti kita akan dilindungi -kita akan mendapat maghfirah (pengampunan) dari Allah. Pengampunan dari Allah adalah lebih dari itu - ia adalah pengampunan yang 'total'. Oleh itu, kita mesti sedar yang kita mahukan Allah mengampunkan kita supaya kita meninggalkan Ramadhan suci dari segala dosa.

Kita boleh berdoa:
"Ya Allah, terimalah usahaku, ampunikan kesilapanku dan kekuranganku. Ya Allah, ampunilah segala kesilapanku yang sengaja & tidak disengajakan. Ya Allah ampunkan segala kesalahannku terhadapMu dan terhadap maklukMu, Ya Allah, aku telah melakukan banyak kesilapan.. "
- tatkala berdoa, kita mesti ada pengharapan yang penuh bahawa Allah akan mengampunkan segala dosa-dosa kita. Bersangka baiklah terhadap Allah.

Matlamat 3: Mengharapkan perlindungan dan kebebasan dari api neraka.

Hadith : Sesiapa yang berpuasa satu hari kerana Allah, Allah akan menjauhkannya dari api neraka seperti jaraknya langit dan bumi. Kita harus ,merasakan keinginan yang mendalam untuk bebas dari api neraka.

Al-Hadith: Dalam bulan Ramadhan, ada hamba Allah yang bebas dari api neraka. Untuk dibebaskan dari api neraka, kita harus memikirkan bahawa kita dari golongan api neraka, apa akan terjadi jika kita ditakdirkan ke neraka - dengan perasaan ngeri & takut. barulah kita akan merayu sedaya upaya agar Allah membebaskan kita dari api neraka.

Imam Azhabi berkata: Sesiapa yang merasakan dia bukan dari golongan api neraka, dia bersifat angkuh (sombong).

Kita ada 29 atau 30 malam di bulan Ramadhan, kita tidak mahu bersikap malas - setiap malam kita harus berdoa agar Allah membebaskan kita dari api neraka. Amatlah merugikan sekiranya kita tertiggal walaupun satu malam - rebut peluang untuk berdoa setiap malam di bulan Ramadhan.

Perumpamaan: Kamu dipenjarakan seumur hidup tetapi diberi peluang bebas selama sebulan. Bagaimana kelakuan kamu? Adakah kamu akan bersikap yang terbaik? Kita sering bekerja keras untuk nikmat di dunia-bagaimana pula dengan akhirah? Bagaimana dengan bebas dari api neraka??? Maka, minta pada Allah membebaskan kamu. Kamu mahukan Azeemahnya. Jangan biarkan syaitan itu berkata," Kamu sudah bekerja keras, cukuplah, kamu sudah bebas." -bayangkan kamu BELUM bebas dari neraka. Teruskanlah dengan meminta dan merayu kepada Allah setiap malam Ramadhan.

Matlamat 4: Kita Mahu Allah Bermegah Mengenai Kita Kepada Malaikatnya.

Hadith yang diriwayat oleh "Ubaadah ibn as-Saamit Rasulullah s.a.w. berkata: Ramadhan sudah tiba, bulan barakah, Allah menyelubungi kita dengan RahmahNya, Dia memadamkan dosa-dosa, Dia memerhatikan kita berlumba untuk kebaikan, Dia bermegah mengenai kita kepada malaikatNya.Oleh itu, tunjukkan kepada ALlah yang terbaik, sesungguhnya yang bermuram adalah adalah yang dihalang dari mendapat Rahmah Allah. (tabaraanee, hadith saheh)

Kenapa Allah membuka pintu Jannah?
Kenapa Allah bermegah dengan MalaikatNya?
Kerana Allah mahu memudahkan kita untuk mara kehadapan, lebih mendekatiNya..

Hadith: Apabila kita berjalan kepada Allah, Allah akan berlari kepada kita... - Bayangkanlah di bulan Ramadhan, ini berlipat ganda! Oleh itu, lakukan LEBIH ! lakukan yang luar biasa !

Bayangkan Allah memanggil malaikat. Ya fulan, marilah tengok.. (nama kita di sebut)! Ia adalah penghormatan dari Allah di hadapan malaikatNya-berlumbalah untuk mendapat penghormatan ini. Bayangkan Allah berkata: tengok si miskin.. (kita semua) dia sedang berqiayaam, tengoklah, dia sedang membaca Quraan, tengok dia.. kita mahu Allah bermegah mengenai kita kepada malaikatnya.

Matlamat 5 : Kita Mengharapkan Shafa’ah (Pertolongan)

Rasulullah s.a.w berkata : Siang (berpuasa) & Quran akan menolong hambaNya pada hari kebangkitan. Puasa akan datang dan berkata : Ya Rabb, aku menghalangnya dari tidur di malam hari, terimalah pertolonganku. Quran & puasa dibenarkan untuk memberi pertolongan (shafa’ah) kepada kita.

Bayangkan : ada rakaman video kita ketika di dunia, setiap saat dirakamkan. Rakaman ini ditayangkan kita di akhirah sepeti pertunjukkan wayang yang mana kita adalah pelakunnya.
Ingatkah hari kita tidak menutup aurat, ingatkah hari kita berbohong, ingatkah kita bergaul bebas lelaki dan perempuan, Ingatkah kita… kita akan merasa hancur! Tidak bermaya… Apa yang kita harus lakukan?
Puasa kita dan bacaan Quran kita berkata: Dia telah berpuasa dengan betul, aku telah mengahalangnya dari makan dan minum, aku membuatnya kerja untukMU, ampunilah dia. Quran pula berkata : Ya Allah, bila orang sedang sibuk berbual di masjid, dia teruskan mengaji. Bila orang sudah meninggalkan masjid, dia sedang mengaji… ampunilah dia.

Matlamat 6: Berharap Agar Dijauhi Penyakit Rohani

Kita mahu agar martabat atau maruah kita lebih tinggi daripada kesenangan dunia-sebab kesenangan di dunia adalah sementara, sedangkan kesenangan di akhirat adalah kekal.

Menurut Ibn Qayyim: puasa mampu menghindari seseorang dari penyakit hati, penyakit rohani dan penyakit jasmani.

Bayangkan dunia adalah lembah paya di mana kita tenggelam di dalamnya dan terus menarik kita keluar dari kayalan dunia ini lalu meneyelamatkan & membawa kita ke syurga. Menurut Ibn Qayyim: Ada sebahagian orang yang mempunyai hati dan jiwa yang tertumpu pada jiwa. Mereka hanya mengharapkan tempat di syurga dan melihat wajah Allah. Mereka meninggalkan kebendaan dunia menganggapnya sebagai remeh –hidup mereka semata-mata mengharapkan keredhaan Allah.

Kita tidak akan merasa puas dengan kebendaan dunia - malahan perasaan cintakan dunia membuatkan kita sentiasa merasa tidak pernah cukup dengan apa yang ada. Seseorang akan berkata.. aku akan bahagia jika rumahku seperti ini. Kemudian aku akan bahagia sekiranya… dan lain-2 lagi. cukuplah! Hapuskan keinginan pada nikmat dunia dan tumpukan perhatian untuk mendapatkan keredhaan Allah dan kampung akhirat.


Matlamat 7: Perlaksanaan Hukum Allah Keatas Keinginan Kita:

Hari akan berlalu & kebanyakan kita hidup di dalam keadaan tanpa arah tuju, dan dalam keadaan tidak sedar iaitu kita leka.. Kebanyakan kita mengikut nafsu kecuali sesetengah di antara kita yang dapat mengawal diri. Misalan: apabila kita lapar-kita makan; apabila kita ingin bercakap-kita akan bercakap tanpa membuat perhitungan, dan lain-lain lagi…. kita membiarkan nafsu kita mengawal setiap perilaku kita. Ingatlah! Nafsu adalah seperti anak kecil (spoil brat) yang hanya mengiginkan kenikmatan-jangan biarkan ia menguasai setiap tindak tanduk kita!

Apabila Ramadhan tiba, seseorang akan menahan nafsunya daripada perkara-perkara yang dihalalkan sebelumnya, seperti : makan, minum dan pergaulan suami isteri di siang hari. Secara sedar- ingatkan diri sendiri bahawa : jangan menjadi hamba kepada nafsu
“Aku mengawal nafsuku dan bukan nafsu yang mengawalku , aku mahu menjadi hamba yang berserah kepada Allah, yang menurut setiap ketetapan yang ditetapkan”.
Bila tiba masa Allah tetapkan untuk kita makan dan minum, maka akan kita turuti perintahNya dan sekaligus kita menyingkirkan nafsu kita daripada bermaharajalela mengawal kehidupan kita.

Latih nafsu kita secara SEDAR (consciously) untuk tunduk kepada perintah Allah. Jangan sekali-kali membiarkan nafsu membuat anda merasa bersalah-nyatakan TIDAK! Sama seperti kita mendisplinkan anak kecil, letakkan nafsu yang sama, pastikan ia turuti undang-undang yang ditetapkan. Jangan pula kita mengawal nafsu hanya pada ketika yang tertentu saja!

Matlamat 8: Perlaksanaan: Kesempurnaan Akhlak Menurut Keketapan Allah:

Ini akan menaikkan maruah & martabat kita. Ramadhan adalah saranan meningkatkan taqwa apabila seseorang melakukannya dengan bersunguh-sungguh (sesuai dengan syariat). Ia juga bulan latihan di mana kita disuruh perbaiki akhlak/perilaku.

Hadith : Puasa adalah perisai… jangan turuti nafsu, jangan meninggikan suara jika kita dicela-nyatakan saja, “aku sedang berpuasa.”

Menurut pendapat sebahagian salaf: kesempurnaan akhlak akan mempertingkatkan ketakwaan kita. Selalulah kita berusaha perbaiki akhlak dan perilaku yang telah ditetapkan dalam islam, bukan menurut adat kebiasaan kita. Jangan memberi alasan bahawa ia adalah personaliti kita. Jika apa yang biasa kita lakukan baik - maka teruskan tapi jikalau ia melanggar tatasusila islam - tinggalkan

Bertekadlah untuk perbaiki akhlak dalam bulan Ramadhan ini. Bayangkan diri anda dengan akhlak yang murni-tidak bercakap perkara yang menimbulkan kemarahan Allah. Biasakan diri dengan berbicara hanya yang membawa kebaikan saja. Cuba anda bayangkan malaikat di sebelah aknan anda sahaja sibuk mencatit sepanjang sebulan ini.

Anda akan diuji/digoda- tetapi nyatakan pada diri anda walau apa pun berlaku anda tidak mahu dikalahkan nafsu. Nyatakan pada nafsu anda-“BERHENTI! Aku ada matlamat. “Sibukkan diri anda dengan matlamat yang telah anda tetapkan. Kawal setiap gerak langkah anda dan nyatakan pada nafsu anda bahawa anda sedang berpuasa. Senantiasa ingatkan diri anda bahawa aku sedang berpuasa, dan aku sedang melaksanakn ibadah.

**
Sekiranya pendapat/nasihat kita kepada orang lain akan membawa kepada perselisihan, maka hentikanlah - lebih baik berdiam diri.


Hadith: Ibadah yang paling Allah sukai adalah yang berterusan (isiqamah) biarpun sedikit.

Kebiasaannya apa yang terjadi setelah Ramadhan? Kita mulai dengan azam yang baru. Ada sebahagian di antara kita meninggal Ramadhan tanpa mengecapi apa-apa pun! Tanpa azam baru. Adakah kita istiqamah dalam ibadah? Bila timbul masalah atau sibuk, kita tinggalkan ibadah itu & ini, ketepikan yang sunnah. Alasan - saya sibuk.. ianya susah… saya letih…saya tidak sihat - apa yang membuat kita terlalu sibuk??? Tidak dapatkah kita memperuntukkan masa untuk kelas (majlis ilmu) walau sekali dalam seminggu?? Ini akan membuka pintu kepada kelalaian - kita perlukan PERINGATAN!! Ada sebahagian orang dapat mengingatkan kita akan Allah, sebaliknya sebahagian yang lain melalaikan kita dengan remeh duniawi-buatlah pilihan yang tepat-orang yang macam mana hendak kita dampingi.

Hadith: amalan itu perlu konsisten (berterusan) dan istiqamah. Bukan sekejap buat dan sekejap ditinggalkan. Menjadi satu kesilapan besar apabila kita menghentikan ibadah kita kerana merasa bosan dan penat. Ramadhan memberi kita peluang untuk melatih diri kita selama 30 hari. Perlu ada komitmen dalam latihan ini, kita hendaklah beribadah kepada Allah setiap masa, sampai hari kita bertemu dengan Allah.

Tiada yang lebih ditakuti orang beriman daripada melihat seseorang yang berada pada jalan yang benar, setelah itu kembali sesat. Rasulullah s.a.w. selalu berdoa “Wahai yang membolak-balikkan hati (Allah) tetapkankanlah hati kami atas agamaMu.” Istiqamah dalam ibadah-syaitan tidak dapat menyesatkan orang yang kosinten. Orang-orang yang sesat biasanya ada meninggakan sesuatu amalan. Misalan: meninggalkan kelas agama, adzkar (zikir pagi/petang), berjemaah, solat sunat.. jangan sesekali membiarkan diri kamu meninggalkan perkara tersebut-ini menjadi detik permulaan setiap kelalaian yang juga melemahkan iman!.

Mula melatih diri kita agar konsisten dalam ibadah di bulan Ramadhan ini. Berhtai-hatilah akan tipu daya syaitan, lebih-lebih lagi di akhir-akhir Ramadhan. Biasanya waktu beginilah akan diadakan jualan murah di sana-sini. Syaitan akan cuba membisikkan… “kamu telah bekerja keras, beristirihatlah.. dan lain-lain..

**Renungilah - sudahkah kita berjaya melengkapkan diri kita dengan istiqamah melakukan ibadah di bulan Ramadhan???
Cetak Halaman